Jumat, 10 Mei 2013

Bintang Impian



*
           Sore itu Randu sedang menerima telepon dari Divo. Hampir setengah jam mereka ngobrol di telepon. Randu duduk di balkon Hotel, di lantai sepuluh. Berbincang sembari menikmati indahnya pemandangan Malaysia yang bersih, nyaman dan sedikit lebih maju dari Indonesia. Veldo menghampiri Randu menunggunya selesai bicara. Randu menoleh lalu menjauhkan ponsel dari telinganya.
           “Ada apa Vel?”
           “Someone at here, dia ingin ketemu sama lo, now.”
          Randu memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dengan Divo. Ia mematikan ponselnya.
           “Ada apa sih? Bahasa kok di campur aduk begitu, bikin rusak bahasa Indonesia saja.”
           “Siapa yang mencampur adukkan bahasa…?” protes Veldo.
           “Oke deh, mendingan lo bilang saja. Ada apa? Dan siapa? Gak mungkin Divo, kan? Yang menelepon gue dari balik pintu Hotel ini?”
           “Ya mungkin saja.” Kata Veldo santai. ”Oke deh, gue suruh tamunya ke sini. Setelah itu gue pergi. Kalo ada apa-apa gue sama Rahman ada di Coffee shop. Tapi jangan lupa janji lo untuk jalan-jalan ke Petronas ntar malam.” Veldo melangkah.
           Randu tersenyum lalu melompat dari tempat duduknya.
           “Hey…! Kita akan ke Coffee Shop sama-sama.”
           “Sebaikmya bicaralah dulu sama tamu lo..” Veldo membuka pintu dan menghilang.
           “Sial.” Randu mendekati pintu. Ia penasaran dengan tamu yang dimaksud Veldo. Saat pintu terbuka seorang Room service tersenyum kepadanya. Seorang wanita cantik itu memberikan sebuah kantong kecil sama Randu.
           “Untuk Anda.” Kata petugas hotel.
           “Dari…?” Mata Randu mengamati sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
           “Someone.”
           “Terima kasih.” Randu memberikan tip sama pegawai hotel itu.”
           “Sama-sama.” Gadis itu meninggalkan Randu.
           “Ini sih bukan tamu. Dasar Veldo, mereka pasti ngerjain gue.” Randu agak keki dengan ulah teman-temannya. ’Yaa lagi-lagi apel, burger dan minuman kaleng’ tiba-tiba Randu agak tersentak seperti ingat sesuatu. ’Rimba’
           “Haloo…” Si malaikat manis itu sudah berdiri di hadapan Randu. Menciptakan senyum indahnya. Randu tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengamati Rimba yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. ”Congratulation..”
           “Hey…, apakah di dunia ini benar-benar ada seorang Peri yang selalu siap mengirim kamu ke mana pun kamu ingin pergi?” celoteh Randu diantara senang dan kaget.
           “Mhm…” Rimba mengangguk lalu berlari memeluk Randu.
           “Aku ingin sekali mempercayainya bahwa ini bukan mimpi. ”Kata Randu saat mereka sudah duduk di atas sofa.
           Randu menikmati burger hangatnya Rimba hanya mengamatinya. Tidak henti-hentinya ia tersenyum melihat Randu makan dengan begitu lahapnya.
           “Kenapa tidak sedikit pun kamu mau mengangkat telepon dari aku?”
           “Untuk apa? Toh semua itu tidak akan mengobati rasa kangen. Karena satu-satunya cara untuk melepas rindu adalah bertemu seperti ini.”
           Rimba tertawa. ”Apa kamu tidak pernah merindukan seseorang?”
           Randu melirik Rimba. “Setiap manusia yang memiliki hati pasti merasakan hal itu. Tapi aku adalah pribadi yang membuat semua itu menjadikannya sebagai acuan untuk menggapai sesuatu.”
           “Pantas saja kamu sudah menjadi orang yang sangat hebat sekarang.” Puji Rimba.
           “Jangan merendahkan aku. Eh, apelnya buat kamu aja. Tapi minumannya bagi dua
ya?” Randu memang selalu ingin berbagi makanan dengan Rimba.
           “Itu semua buat kamu kok…” jelas Rimba.
           “Jangan berusaha membuat aku gendut.” Randu makan juga apelnya. ”Kenapa kamu begitu kurus?” ia mengamati Rimba.
           “Oh ya,? Tapi menurut Designer-ku, aku harus menurunkan berat badan dua kilo lagi.” Rimba mengamati dirinya sendiri. Randu kembali mengejeknya.
           “Mungkin di dalam lingkungan Barbie kamu masih terlihat gemuk tapi menurut aku, kamu itu terlalu kurus. Seperti orang yang tidak berdaging.” Goda Randu habis-habisan.
           “Ihh… jahat banget kamu, Ran…”
           “Kalo itu sih sudah dari dulu, tapi kamu yang lebih jahat. Dapat job di Amrik diam-diam saja, untung aku bertemu dengan Ayibanmu.”
           “Siapa? Ayiban??” Rimba masih duduk terpaku dan agak tersentak.
           Randu tertawa. “Upsss!” ia keceplosan. “Iya Non, seorang pria yang kamu cintai di bumi ini. Siapa lagi kalau bukan si Bandel yang kau jumpai di pasir putih Lampung, apa kau tidak pernah ingat sama sekali? Tidak pernah merindukannya atau jangan-jangan kamu berharap dia muncul di hadapan kamu dan mengeser posisi Arif?” Kata Randu serius. Rimba coba berpikir keras. Tidak mungkin Divo yang mengejar-ngejar Randu adalah orang yang memiliki nama Ayiban itu, yang menulis nama di biola kesayangannya. Tapi jika benar dan Randu-Divo saling mencintai dan si Divo mengira bahwa Randu adalah Rimba maka dia harus rela. ”Kok diam? Apa kamu masih suka memainkan biolamu? Aku kangen sekali dengan suaranya, serius.”
           “Randu, seharusnya aku cerita dari awal tentang kejadian itu. Tapi mana pernah kamu punya waktu untuk mendengarnya. Aku dengan Divo tidak ada…”
           Randu mengernyitkan keningnya, heran. “Divo?!”
           Rimba bangikt dari sofa, ia berjalan ke balkon. Randu yang masih bingung mengikutinya. Di luar terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Tapi detik ini pemandangan itu seperti menghitam.
           “Aku dan Arif saling mencintai, sosok Ayiban di masa kanak-kanak itu hanya…”
           “Kamu ini bodoh sekali sih?!” Randu marah. Rimba menatapnya sejenak. ”Aku gak ngerti kenapa wanita cepat sekali menyerah? Apa di dunia ini hanya wanita yang punya perasaan sementara cowok nggak? Dan kenapa Rimba yang dikenal berani tiba-tiba takut menghadapi kenyataan?”
           “Randu… aku gak ngerti maksud kamu.”
           “Aku hanya pengen tahu, apakah kamu masih sangat berharap kalau sosok Ayiban hadir lagi dalam hidup kamu?” Ia menatap Rimba dan menunggu jawaban ‘Iya’ dari mulut sahabatnya itu. Namun Rimba tidak bisa menjawab meski dengan pasti ia sudah tahu jawabannya.
           “Kamu tahu Randu? Terkadang sebuah kebahagiaan yang kita peroleh berasal dari rasa bahagia dari orang yang teramat kita sayangi.”
           Randu tertawa lagi dan kali ini agak keras. “Pantas saja kamu dan Arif membiarkan hubungan kalian dibatasi oleh sosok Ayiban dan gadis kecil yang tidak bisa menyebut R itu begitu lama. Maaf Rim…, tadinya Arif berharap ingin melihat ekspresi langsung dari wajah kamu saat dia menceritakan semua ini, tapi aku sudah tidak sabar jadi aku mendahuluinya. Arif adalah Ayibanmu. Maaf, tidak sepantasnya aku mendahului dia.” Rimba memutar tubuhnya untuk menatap Randu. Randu bicara lagi. ”Apa tadi kamu berpikir Divo itu si Ayiban? Satu lagi, Arif juga baru mengetahui kebenaran itu saat dia mengantar biola ke Bandara. Saat itu dia mau ngomong tapi merasa waktunya tidak tepat.”
           “Jadi….? Ya Tuhan…” Tiba-tiba Rimba memeluk Randu begitu erat.
           “Sudah-sudah, aku tahu kamu bahagia, kau akan kembali ke Indonesia, kan? Merengkuh cintamu yang selama ini seperti layang-layang. Kau ingin bertemu dengan Arif, kan?” tambah Randu karena ia pun sangat berharap Rimba kembali ke Jakarta.
           “Tidak.” Bisik Rimba.
           Randu telah menceritakan semua yang Arif ceritakan namun sepertinya tidak akan
mengubah prinsip Rimba. “Apa syarat untuk mendapatkan sesuatu itu harus memiliki prinsif yang konyol?”
           “Mungkin, tapi setidaknya ada pesan-pesan orang terdekat yang membuat kita menanamkan prinsif itu dan satu hal lagi, kita baru saja mencapai 50 persen perjalanan, bahkan mungkin belum.”
           “Oh, begitu?”
           Rimba menatap Randu tidak mengerti kata-katanya yang singkat itu, tapi ia berusaha tersenyum. “Bagaimana kabar Bi Ijah, serta yang lainnya?”
           “Baik.” Ia memegang pinggiran balkon. ”Rimba, terkadang aku berpikir kalau kamu itu masih saja memikirkan diri sendiri. Memikirkan masa depan sendiri tanpa mau peduli dengan orang-orang yang ada di sekeliling kamu yang begitu tulus menyayangi kamu. Kau…” Randu terdiam sejenak. ia menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang tak terperi, tapi ia tetap tak kuasa, karena rasa sakit itu lebih kuat. ”Aduh…” Ia meringis sambil memegang perutnya dan tangan kanannya mencengkram erat pagar balkon.
           “Randu, kau kenapa?” Rimba memegang bahunya. Randu memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit itu sekuat tenaganya karena lebih sakit dari bulan-bulan kemarin.
           Ia melirik Rimba dan coba tersenyum. “Aku gak apa-apa.”
           “Ya ampun, wajah kamu pucat sekali,” Rimba meraba kening Randu, suhunya biasa.
           “Sudahku bilang, aku gak apa-apa.” Randu berusaha kembali ke kamar dan duduk lagi di sofa. Ia tidak mungkin bisa menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya itu. Wajah dan gerak-geriknya memperlihatkan kalau dia sedang amat tersiksa.
           “Kita harus ke dokter.” Kata Rimba pelan dengan mimik yang sangat cemas.
           “Ini sudah biasa, ntar lagi juga sembuh kok.” Kata Randu disela rasa sakitnya.
           “Memangnya kamu sakit apa?”
..........>>>

Selasa, 07 Mei 2013

Punya Teman itu Indah



          

           S  : elalu.
          : da di saat kita membutuhkannya, meski kadang berjauhan.
          H : atinya selalu memahami.
          A  : da banyak cerita tentang persahabatan, kesalahpahaman pun sering muncul.
          B  : agai bulan dan bintang, ada gerimis sebelum pelangi.
          A  : ntara persabatan sering muncul konplik, CINTA mungkin yang paling rawan.
          T  : api…, sahabat sejati bisa melewati itu....!
          
           Jangan pernah coba-coba mencintai belahan hati sahabatmu…, 
           Kadang cinta datang sendiri tanpa                                  
           permisi, dalam bentuk wajah yang sama. Saat kita hidup di alam tanpa ada mentari, 
           bulan ataupun bintang, 
           maka kita akan berada di titik gelap… titik yang paling sulit, di mana kita tidak bisa  
           memilih……,  

                                      UNTUK PARA SAHABAT SEJATI.

          (htx)

Sabtu, 04 Mei 2013

Dilema Cinta



*
        Di kamarnya, Cathy sedang menyimpan foto-fotonya bersama Vhaiza yang diambil saat ia menemani Vhaiza dan ada juga yang dari majalah yang memuat dia dan Vhaiza. Dia seorang teman, itu pengakuan Vhaiza. Baru beberapa minggu, Vhaiza sudah mendaulatnya sebagai teman. Bukankah untuk menjadi seorang teman itu tidaklah gampang? Karena teman sejati tidak bisa ditemukan di sembarang tempat. Sebab ada yang bilang, mendapatkan teman sejati tidaklah segampang mencari uang. Ada rasa bangga di hati Cathy namun belum bisa menutupi rasa malunya. Dia akan kembali ke Amerika dan membawa foto kenangannya dengan Vhaiza. Ia memasukan fot-foto itu ke dalam kopernya saat Vhaiza muncul di kamarnya. Cathy menoleh ke pintu.
        “Hai…” sapa Cathy sebelum Vhaiza berbicara atau menyapanya duluan.
        “Boleh masuk?” Vhaiza memandang koper yang sudah siap di sebelah Cathy. Cathy memperbaiki posisi duduknya dan mengangguk. Vhaiza mendekat dan duduk di sebelah Cathy.
        “Cathy…” ia menarik napas sejenak. ”Terus terang, aku menyukai kamu. Malam ini, aku ingin kamu ngobrol dengan Agoy.”
        “Untuk apa?” Tanya Cathy heran.
        “Bukan untuk apa-apa, hanya ingin kamu ngobrol bersama saja.”
        “Jangan mulai lagi Vhaiza…” pinta Cathy.
        “Tolonglah, Agoy sudah menunggu kamu di ruang studio.”
        “Tidak!”
        “Tolonglah, apa harus aku panggil dia ke sini?”
        “Vhaiza…!” Cathy mulai memarahi wanita itu.
        “Aku tahu, apa yang aku lakukan.”
        “Apa kamu sedang memaksa aku?”
        “Jangan bilang seperti itu, aku hanya meminta. Aku mohon…” ucapnya dari hati yang paling dalam. Cathy menghela napas panjang.
        Vhaiza itu seperti bayi, sulit sekali untuk menolak permintaannya. Ketulusannya membuat orang tidak berdaya, seperti yang dialami Cathy saat ini.
        Beberapa menit kemudian, Cathy sudah ada bersama Agoy.
        Vhaiza meninggalkan pesan di kamarnya. Malam itu ia memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Kedatangan Vhaiza malam-malam tanpa ditemani Agoy membuat Mamanya menduga yang bukan-bukan.
        Bukan pers tidak mencium adanya ketidakberesan hubungan Vhaiza dengan Agoy selama ini. Tapi belum ada yang menemukan fakta yang benar-benar akurat. Kalau menduga Agoy punya hubungan dengan wanita lain hanya karena tidak memiliki keturunan dengan Vhaiza, sepertinya itu terlalu mengada-ngada. Karena tidak sedikit orang di dunia ini tidak memiliki keturunan di dalam pernikahan mereka.
        Kehadiran Cathy, sebagai keluarga dari Agoy dan sekarang telah menjadi teman Vhaiza sangatlah masuk akal karena Agoy memang besar di luar.
*
        Di rumah orang tua Vhaiza. “Sayang… segala sesuatunya bisa dibicarakan, tindakan kamu ini salah. Walau pun kamu meninggalkan pesan dan tetap saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah.” Mama Vhaiza mengingatkan anaknya apalagi ada Cathy di rumah itu.
        “Mama.. Ais dan Agoy tidak sedang mengahadapi masalah apa-apa, Ais lagi pengen nginap di sini saja, percayalah. Besok sebelum terang, Ais akan kembali.” Ia coba meyakinkan Mamanya.  
        Wanita itu menatap anaknya, ia yakin kalau Vhaiza sedang menghadapi cobaan berat, ia hanya bisa berdoa agar anaknya diberi kekuatan dan jalan keluar yang terbaik. Ia membiarkan Vhaiza menikmati apa yang ia inginkan saat ini.
        “Kamu tahu kan, kalau kata hati itu yang paling benar? Naiklah ke kamarmu. Mama di bawah, jika kamu butuh sesuatu.” Ia memeluk anaknya sesaat.
        “Terima kasih ya Ma…” ia menatap wanita bijak itu dan memang ia lagi butuh untuk sendiri. Dengan langkah pelan ia meninggalkan Mamanya menuju kamarnya di atas. Ia duduk di teras kamarnya. Perasaannya tak menentu, ia sendiri tidak yakin apakah yang ia lakukan saat ini benar atau tidak? Ia menatap langit, bintang bertaburan indah namun tidak seperti suasana hatinya. Hatinya sedang ada bersama Agoy dan Cathy.
        ‘Tuhan… bantulah aku memecahkan persoalan ini, aku tidak tahu lagi usaha apa yang harus aku tempuh? Aku tahu ini sangat sulit dan berat serta mengorbankan diriku sendiri namun aku ikhlas, jika ini keinginan Engkau.. Engkau tahu yang terbaik untuk umatMu.’ Vhaiza memejamkan matanya beberapa detik. Sesaat berikutnya ia masuk ke kamarnya. Tiduran, duduk dan berkali-kali seperti itu.
        Sementara Agoy dan Cathy sedang ngobrol di teras atas, ia tidak setuju ngobrol di studio mini Vhaiza. Karena ruangan itu tempat Vhaiza mengembangkan inspirasinya. Sebelumnya ia tadi sempat ke kamar dan menemukan secarik kertas tulisan Vhaiza di atas tempat tidur mereka.
       
        ‘Sayang… malam ini aku menginap di rumah Mama. Tidak usah telepon ya, besok pagi sebelum terang aku pasti  sudah kembali. Maafkan aku karena pergi tanpa seizin kamu.’
                                                                                                                     Vhaiza.

        Vhaiza jarang meninggalkan pesan seperti itu, jika pun ya, maka ia akan menuliskan kata-kata ‘with love’ sebelum nama Vhaiza di bagian bawah pesan.
        Agoy menghela napas berat seperti halnya Cathy, ia tadi juga tidak bisa menolak keinginan Vhaiza dan ia tidak menyangka kalau Vhaiza punya rencana akan meninggalkannya bersama Cathy di rumah.
        Agoy mengajak Cathy ke dapur untuk membuat kopi, setelah itu mereka ngobrol di tepi kolam renang. Di sana Agoy memperlihatkan pesan Vhaiza untuknya. Cathy membacanya sejenak. Ia menatap Agoy sekilas lalu mendesah berat.
        “Sudah tujuh belas tahun aku meninggalkan Jakarta dan baru sempat lagi datang ke sini. Di sini aku menemukan seorang wanita yang begitu kuat, setia, sabar, berbakat dan mulia. Siapa pun yang dekat dengannya, adik, kakak, suami dan temannya pasti bangga pernah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap wanita di dunia ini berharap akan melahirkan anak seperti dia…” tutur Cathy panjang lebar.
        “Kamu sudah menemukan jawabannya kenapa aku tidak mau meninggalkan dia, kan? Aku bisa hidup tanpa anak namun aku tidak bisa hidup tanpa Vhaiza.”
        “Tapi Vhaiza tidak menyadari hal itu, aku sama sekali tidak menyangka kalau ia masih saja bersikap seperti itu. Aku tidak tahu kalau dia merencanakan kita untuk ngobrol malam ini. Dengan konyolnya ia membiarkan kita bersama dan dia pergi dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaanku.” Kata Cathy agak marah dengan sikap Vhaiza lalu melirik Agoy.
        “Aku juga…” kilah Agoy datar.
        “Kamu tahu Arron…? Vhaiza ternyata menginginkan aku menjadi sahabatnya.” Nada suara itu mengandung kebanggaan dan bahagia seolah merasa diakui sebagai teman.
        “Tapi sebelumnya dia menginginkan kita bersama lagi, kan? Bahkan mungkin hingga detik ini.” Sahut Agoy kemudian.
        “Aku mengerti perasaannya. Dengan usia kami yang terpaut satu tahun, rasanya ingin sekali menjadi kakak untuknya. Dia begitu manis…” Cathy meneguk kopinya. ”Aku harus menelepon dia, aku tidak ingin ia mengira kita berbuat sesuatu di sini.” Ujarnya kemudian.
        “Percuma., dia tidak akan menjawab telepon kamu, percayalah”
        “Aku harus mencobanya! Apalagi dia itu temanku.” ia memaksa.
        “021 547 8173 pesawat kamarnya 7.” Agoy menyebut nomor yang harus Cathy hubungi. Ia mengangguk. ”Coba saja.” katanya kemudian.
        Cathy mengambil gelas kopinya dan membawanya ke kamarnya, ia pamit sama Agoy. Lalu tiba-tiba ia berbalik lagi pada Agoy. Dia berubah pikiran.
        “Aku pinjam mobil kamu.” Ia meminta kunci mobil Agoy setengah memohon.
        “Kamu bisa nyasar Cath… ini bukan Paris atau Amerika. Di Jakarta jalannya tidak beraturan, macet dan banyak sekali persimpangan.” Agoy memperingatinya.
        “Aku pernah ke rumah orang tua Vhaiza dan kalau ragu aku akan menghubungi kamu, jangan pernah matikan ponsel kamu, oke.” Printahnya.
        “Sepertinya bukan laki-laki saja yang nekad.” Agoy menyerah.
        Cathy merasa tidak akan bisa tidur jika tidak melakukan sesuatu. Kalau Vhaiza tidak mau menerima telepon darinya maka dia harus menemui Vhaiza. Sepertinya tidak mungkin Vhaiza tidak mau membuka pintu untuknya.
        Tidak sampai setengah jam berikutnya Cathy menelepon Vhaiza dan anehnya wanita itu
mengangkatnya. Dia melihat jam di dindingnya sudah menunjukkan hampir pukul setengah sebelas.
        “Halloo…” kata Vhaiza setelah menghela napas sebelumnya.
        “Aku ada di depan rumah Ibu kamu saat ini, sendiri.” Kata Cathy pelan. Vhaiza mengangkat wajahnya, ia menoleh ke arah depan rumah dengan menyibak hordeng sedikit. Ada mobil Agoy di sana.
        “Masuklah…” suara itu tanpa kesan satu menit lebih kemudian Cathy sudah muncul di kamar Rhaissa. Vhaiza tersenyum namun Cathy menggeleng-gelengkan kepalanya.
        “Tidak bisa tidur ya? Makanya aku ke sini karena aku juga tidak bisa tidur.”
        “Masuklah.” Ajak Vhaiza. Mereka duduk di atas sofa yang ada di kamar itu. ”Mau aku ambilkan kopi?” kata Vhaiza merasa sedikit bersalah dan tidak enak dengan gadis itu.
        “Aku barusan sudah ngopi bersama Arron di rumah kamu, dia baik-baik saja.. kamu tidak usah khawatir.”  Ia menoleh pada wanita yang ia kagumi itu.
        “Kamu seharusnya tidak perlu ke sini.”
        “Sepertinya aku yang pantas berkata seperti itu untuk kamu.” Ia mengamati kamar sejenak.
”Kamar yang indah, ini pasti dunia masa remaja kamu..” tebaknya.
        Vhaiza masih tersenyum. ”Kenapa kamu ke sini?” ia masih ingin tahu.
        “Kenapa memangnya? Kamu keberatan kalau malam ini aku tidur di sini?” ia memegang tangan Vhaiza dan mendesah pelan. ”Vhaiza… kalau boleh aku sebenarnya ingin sekali menjadi kakak untuk kamu.”
        “Tidak, kamu sudah punya seorang adik, aku juga punya kakak dan adik. Lagi pula menurut aku, seorang teman yang baik, kasih sayangnya bisa saja melebihi saudara sendiri.”
        “Tapi sikap kamu tidak menunjukan seperti itu.. mana ada seorang teman pergi tanpa bilang apa-apa. Katakan kenapa kamu meninggalkan aku berdua sama Arron di rumah kamu? Apa itu menunjukan sikap seorang teman? Kamu bilang mempercayaiku, padahal sebenarnya kamu masih sangat meragukan aku… kenapa sikap dan omongan kamu tidak bisa menyatu? Apa ini berlaku khusus padaku? Jika seperti itu, maka aku membenci kamu. Sangat membenci kamu.” Kata Cathy tanpa menatap wajah Vahiza.
        “Aku harus bagaimana? Katakan…” suara dan nada itu seperti sedang berbicara kepada sahabat yang juga merangkap sebagai kakak.
        “Huuhh… aku menyesal datang ke Jakarta.” Cathy menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
        “Aku yang salah… karena telah menikah dengan Agoy.”
        “Apa kamu bilang….?” Cathy tiba-tiba mengembalikan posisi duduknya seperti semula tapi menatap wajah wanita itu dengan seksama dan dengan cepat meraih wajah Vhaiza agar menatap matanya. ”Yang bicara itu bukan Vhaiza yang aku kenal. Itu pantas diucapkan oleh wanita yang sedang putus asa.. ada apa dengan kamu? Coba kamu lihat di sekeliling kamu, semua mencintai kamu, menyayangi kamu, ribuan orang cemburu dengan kehidupan kamu.. dengan kesuksesan kamu.. tidak ada satu pun yang ingin meninggalkanmu, tidak ada yang ingin menyakitimu.. tidak seorang pun. Baik Arron atau pun aku. Setelah aku pikir-pikir… kamu itu sebenarnya egois… dan berubah jadi wanita yang paranoid.” Aslinya Cathy sudah keluar, sebagai wanita mandiri, sebagai kakak dan wanita yang pekerja keras di Paris.
        “Kamu tidak mengerti, dan tidak pantas bicara seperti itu.” Keluh Vhaiza.
        “Aku sangat mengerti… dan pantas bicara begitu. Bukankah seorang teman melebihi saudara sendiri? Dalam arti tanda kutip?” suara Cathy masih tinggi.
        “Kamu menyakiti perasaanku Cath…” sahut Vhaiza berusaha bersikap tegar.
        “Kamu bahkan menginginkan lebih dari itu dari aku, kan?” nada suara Cathy bicara seperti seorang kakak yang sedang mengomeli adiknya.
        Vhaiza bangun dari sofa. Ia berdiri di belakang gorden yang tipis. Mungkin Cathy tersinggung dengan sikapnya, tapi ia tahu kalau Cathy juga mencintai Agoy dan menginginkan pria itu, jadi tidak ada salahnya kalau Vhaiza juga menginginkan yang terbaik unatuk mereka.
        Hening beberapa saat, Cathy bersandar di sofa lagi dan memejamkan matanya. Kalau dia sudah sayang dengan seseorang dan orang itu melakukan kesalahan maka ia tidak segan-segan untuk memarahinya. Itu mungkin yang belum dikenali Vhaiza dari sifat Cathy.
        “Vhaiza, aku lapar… di dapur ada makanan tidak?” katanya setelah agak lama diam.
        Vhaiza menoleh pada Cathy yang sudah menatapnya lalu mengangguk. Cathy  malah yang mengajak Vhaiza menuju dapur, 
=====
..........???

Kamis, 02 Mei 2013

'Apabila Cinta itu Tulus'



       Pukul delapan pagi waktu Texas, Nyonya Andini mengajak Vhaiza terbang ke California  dan mendarat di Bandara Internasional San Francisco untuk mengunjungi toko-toko para perancang ternama dunia menjual produknya.
       ‘Bandara Internasional San Francisco California berbatasan dengan Samudra PasifikOregonNevada, Arizona dan negara bagian Meksiko Baja California.
       California memiliki alam yang indah menonjolkan lembah tengah yang luas, gunung tinggi, padang pasir yang panas dan ratusan mil pesisir yang indah. Dengan luas wilayah 410.000 km² dia merupakan negara bagian terbesar ke-3 di AS. Kebanyakan kota besar menempel di pesisir Pasifik yang sejuk, yang paling terkenal Los AngelesSan Francisco, San JoseLong Beach, dan San Diego. Namun, ibu kota negara bagian ini, Sacramento terletak di Central Valley. Sedangkan kota keenam terbesar di California, yaitu Fresno terletak di San Joaquin Valley.
       California terkenal akan gempa buminya, dikarenakan San Andreas Fault. Meskipun gempa yang lebih kuat terjadi di Alaska dan sepanjang Sungai Mississippi, gempa di California terkenal karena frekuensinya dan letaknya di wilayah yang banyak penduduknya. Beberapa orang percaya, pada akhirnya, sebuah gempa bumi besar akan menyebabkan putusanya pesisir California dengan benua, dan akan tenggelam ke samudra atau membentuk sebuah tanah baru. Kenyataan dari skenario ini sebenarnya tidak mungkin dari sudut pandang geologikal, namun tidak mengurangi kepercayaan publik, atau oleh para produser media fiksi-ilmiah dan fantasi yang sering mengeksploitasi kemungkinan ini. Film terkenal yang menggambarkan kerusakan California oleh gempa bumi termasukEarthquake, A View to Kill, Escape from L.A., dan Superman. California juga merupakan rumah dari beberapa gunung berapi, beberapa masih aktif seperti Gunung Mammoth. Gunung berapi lainnya termasuk Lassen Peak yang meletus sejak 1914 dan 1921, dan Gunung Shasta.

       Nyonya Andini menyukai Rodeo Drive,

      ‘History of Rodeo Drive in Beverly Hills, California.
 Rodeo Drive of Beverli Hills, California is a shopping districk famous for designe label an haute couture fashion. The name generally refers to a three-block long stretch of boutiques and shops but the street stretches further north and south.
       Back when California was part of Mexico, on August 3,1769, Don Jose Gaspar de Portola, the first governor of provincial California, and his entourage, the portola expedition, became the first Europeans known to arrive in the area, having traveled an existing Indian trail ( present-day Wilshire Boulevard ) to the present-dan site of La cienega Parkm named for a large swamp-“cienega” in Spanish-and namesake of adjacent La Cienega Boulevard. The Tongva (“Gabrieleno”) people living there considered it to be a holy site because of its precius commodity, water and the abundant food supply it provided. Their name for the site,”The
Gathring of the Waters”, translate to Spanish as “El Rodeo de las Aguas.”
While Portolà fell somewhat short of reaching Cíbola, the expedition's chaplain, Friar Juan Crespí, wrote in his journal of " [a] large vineyard of wild grapes and an infinity of rose bushes. After traveling about half a league we came to a village of this region. People came into the road, greeted us and offered seeds."
Following the death of her Spanish soldier husband, Afro-Latina and early California feminist icon Doña Maria Rita Valdez de Villa was granted the deed to the area in 1838. She operated the Rancho Rodeo de las Aguas there until its sale in 1854 to Benjamin D. Wilson and Henry Hancock for $4000. "Hotel California," the Beverly Hills Hotel, now stands where her adobe home once stood, about a half-mile north of the present-day Rodeo Drive shopping district. ’(1)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
(1). Sumber Wikipedia.


*
       Di mana tempat para tokoh menjual karya terbaik dari perancang terbaik. Ia ingin Vhaiza memiliki semua yang terbaik, yang dihasilkan dari tangan-tangan terbaik di dunia. Di toko itu Mama seakan mengajak Vhaiza memborong semua yang Vhaiza sukai. Tapi Vhaiza tidak menginginkan apa pun. Karena kasih sayang tulus yang diperlihatkan oleh Nyonya Andini membuatnya tidak sanggup. Ia tidak bisa kehilangan itu, ia membutuhkan kasih sayang itu melebihi barang-barang mahal itu. Tadinya Vhaiza mengira mertuanya akan mengajaknya jalan-jalan ke Mall Galleria di Texas tempat belanja kalangan atas atau ke outlet, premium outlet, barang-barang yang dijual bukan barang palsu atau KW karena barang asli itu tidak lulus proses Quality Control untuk masuk ke gerai resmi di mall ternama meski ada juga model-model yang khusus dibuat untuk outlet yang ada di San Marcos Prime. Pada akhir tahun sering diadakan diskon besar-besaran. Bangunan Premium outlet sama seperti outdoor mall, bisa santai sambil menikmati sinar matahari. Di Texas hanya ada di lima kota saja yaitu : Allen (area Dallas), Houston, Mercedes (area McAllen), Round Rock (area Austin) dan San Marcos (area San Antonio/Austin). San Marcos adalah yang paling terbesar di Amerika dan luar biasa luasnya. Satu hari sepertinya tidak cukup untuk explore toko satu persatu .
       Nyonya Andini tahu pasti kalau Vhaiza menyukai hal yang berbau musik atau film maka ia membawa wanita itu ke tempat yang pasti disukai semua seniman musik di dunia yaitu ke tempat belanja paling populer di California Amoeba Music dan kebetulan sekali mereka menginap di hotel BEST WASTERN Hollywood Plaza Inn tempat yang tidak begitu jauh dari Amoeba Music. Namun apa pun itu namanya bahkan surganya para gila belanja juga tidak akan bisa mengubah suasana hati Vhaiza yang masih memikirkan pembicaraan Agoy dengan ibu mertuanya apalagi setelah mendengar langsung dari dokter membuat Vhaiza berkali-kali menghela napas panjang karena merasa agak susah bernapas meski suasana tempat belanja sangat dingin dan nyaman, ramainya pengunjung dengan kesibukan masing-masing namun telihat tertib semakin membuat hati Vhaiza ingin menjerit.
       Nyonya Andini yang menyadari Vhaiza bukan tipe shoppaholic tidak menyangka kalau menantunya juga tidak begitu menyukai hal yang masih menyangkut dengan bidangnya, sebab dari tadi Vhaiza belum mengambil item apa pun di toko besar itu.
        Menjelang pukul dua siang Nyonya Andini memutuskan untuk membawa menantunya istirahat, mereka akan menikmati makanan di sebuah kafe yang tendanya ada di tepi jalan. Di bahu trotoar dengan tenda-tenda yang lucu. Nyonya Andini memesan kopi, pizza dan big burger. Sampai-sampai Vhaiza terkejut melihat pesanan itu.
        “Ayo honey… kita bersenang-bersenang… Mama yakin kamu tidak pernah makan sebebas ini, kan? Tanpa diganggu oleh para fans dan sang produser kamu pasti membatasi porsi makan kamu, kan? Lihat saja hasilnya. Tubuh kamu persis seperti para model di negeri ini. Kamu jangan khawatir karena makanan seperti ini sekali-kali memang diperlukan.” Katanya setengah bergurau.
        Vhaiza tersenyum. ”Mhm.. siapa takut.” Tantang Vhaiza. Dan sesaat sebelum mereka menikmati makanan. Seseorang menegur Vhaiza.
        “Sorry, Vhaiza…., kan?”
        Vhaiza menoleh. Terlihat seorang wanita dengan teman laki-lakinya tersenyum pada Vhaiza.
        “E e, hai.” Vhaiza berdiri. Kedua wanita itu berpelukan sejenak. Wanita itu memperkenalkan teman bulenya dan Vhaiza memperkenalkan mertuanya.
        “Ini Mama saya.”
        “Halo tante, Vhaiza tentu saja saya mengenali Mama mertua kamu.” Ia mengulurkan tangannya pada Mama. Wanita itu tersenyum ramah.
        “Ayo kita makan siang sama-sama.” Ajaknya dengan tulus.
        “Mama benar.. kenapa nggak.” Tambah Vhaiza. Wanita modis itu melirik cowoknya sejenak lalu menatap Vhaiza dan mertuanya.
        “Tidak. Terima kasih sekali… kami harus buru-buru, lain kali kami tidak akan menolak. Maaf ya tante. Mm.. Vhaiza dan tante, kami pamit dan selamat makan siang.” Kedua remaja itu pergi menyusuri trotoar, sepertinya mereka akan berbelanja.
        “Hmm… baru saja Mama bilang kalau tidak ada yang mengganggu kamu di sini.”
        “Ma, tentu saja dia kenal dengan Vhaiza. Dia itu VJ MTV di Singapura.” Jelas Vhaiza.
        “O, ayo kita nikmati makanannya.” Ia sudah tidak sabar. Ia mencicipi kopinya, diikuti Vhaiza. Vhaiza memandang Mama mertuanya. Ia ingin sekali mengetahui tentang rahasia yang disimpan oleh keluarga Agoy terhadap dirinya.
        “Ma… terima kasih untuk semua ini.”
        Wanita itu mengangguk dan tersenyum. ”Kamu wanita sempurna sayang.” Katanya dengan bangga.
        “Mama berbohong.” Sahut Vhaiza dengan pelan.
        “Whats…?!”
        Vhaiza meletakan gelasnya ia menghela napas dengan pelan dan mulai bertanya meski agak ragu-ragu. “Kenapa Mama melakukan semua ini? Kenapa Mama mengatakan aku wanita sempurna padahal Mama tahu kalau aku adalah seorang wanita yang paling menyedihkan di dunia ini.” Tuturnya dengan nada sangat memprihatinkan.
        Wanita itu menatap Vhaiza seolah tidak percaya mendengar kata-kata barusan. “Whats do you mean, honey?” suaranya tak kalah pelan dari suara Vhaiza.
        “Malam itu tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Mama bersama Agoy.”
        “Oh my God.” Sesaat ia terdiam. Ia bisa memahami bagaimana perasaan Vhaiza saat ini hingga membuat ia menarik napas panjang lalu matanya tiba-tiba menangkap pemandangan di sisi jalan. Ada seorang wanita gendut sedang mendorong kereta bayi. Di belakangnya ada tiga orang anak yang masih balita. Terlihat dengan jelas kalau wanita subur itu sangat kualahan. Dia kesal dan mengomeli anak-anaknya. Seakan-akan dia sangat menyesali karena sudah melahirkan anak-anaknya ke dunia ini. Mama lalu menoleh ke Vhaiza.
        “Kamu lihat sayang, wanita yang ada di ujung jalan itu?” katanya. Sedangkan Vhaiza sudah mengikuti arah mata Mamanya sedari tadi.
        Lalu ia pun berujar. “Tapi bagaimana pun juga, dia adalah wanita yang sempurna.”
        “Sempurna dalam arti apa, sayang? Kenapa kamu berpikir setiap wanita yang bisa melahirkan anak di muka bumi ini di sebut sebagai wanita sempurna? Menurut Mama, seorang yang bisa di sebut sempurna itu jika ia bisa menikmati hidupnya dengan nyaman dan bahagia. Kamu tahu? ada berapa wanita di dunia ini yang memiliki anak berlusin-lusin namun mereka belum tentu bahagia dan nyaman.” Ujarnya santai. Vhaiza menatap mertuanya yang mulai menikmati pizzanya. Vhaiza ikut makan meski tak begitu bernafsu. ”Kamu tidak menikmati pizzamu sayang…?” ia melihat Vhaiza makan namun tidak menikmatinya  dengan sungguh-sungguh sebenarnya ia sangat memaklumi suasana hati Vhaiza.
        “Maafkan Vhaiza, Ma.”                       
        “Tidak apa-apa.” Ia jadi ikut-ikitutan tak bernafsu.
        “Ma, mengapa Mama dan Agoy merahasiakan hal itu terhadap Vhaiza?”
        “Sayang…, seseorang rela melakukan apa saja demi orang yang di cintainya.” Ia coba menjelaskan. Vhaiza diam sembari mulai mencicipi lagi makan siangnya. Kali ini wanita itu menatap Vhaiza lekat-lekat. ”Sayang… kamu tidak apa-apa?” ia menyentuh tangan Vhaiza. Vhaiza tersenyum. Ia merasa ada yang tidak adil setelah mendengar penuturan Mama.
        “Mama bilang demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Ma, aku juga mencintai Mama. Aku ingin sekali melakukan sesuatu untuk Mama, tapi bagaimana?” ia bertanya dengan hati-hati.
        “Kamu tidak perlu melakukan apa-apa sayang… Mama sudah bahagia mendapatkan Arron, dan mendapatkan juga seorang anak perempuan seperti kamu. Itu sudah membuat Mama sangat bahagia.” Wanita mendekati usia lima puluhan itu tersenyum dengan bijak.
        ‘Dia bahagia mendapatkan seorang anak, Agoy dan mendapatkan seorang menantu perempuan tapi, aku? Tak seorang pun yang bisa aku miliki.’ Sisi lain di hati Vhaiza membrontak. ’Hei, Vhaiza! Kamu memiliki seorang suami yang sangat mencintai kamu dan mertua yang amat sangat menyanyangi kamu. Apalagi yang kamu keluhkan?’ sudut hatinya yang lain lagi memaki.
        “Hee… Mama tidak ingin melihat kamu sedih seperti ini, Mama akan senang sekali kalau kamu menghabiskan makananmu, hmm…?” ia mengusap tangan Vhaiza sekilas lalu. ”Kamu tunggu sebentar ya, Mama ke belakang dulu.” Ia pergi sebentar dan Vhaiza memandangnya berlalu. Sejujurnya ia agak kecewa karena Agoy merahasiakan tentang dirinya yang tidak bisa memiliki seorang anak. Hati kecilnya bertanya sendiri, bagaimana kelanjutan hubungan mereka nanti? Bisakah bertahan?
        ‘Aku harus melakukan sesuatu. Demi cinta, aku juga bisa berbuat apapun.’
        Mama menghubungi Agoy. Ia mengatakan kalau Vhaiza telah mengetahui semuanya.
        Agoy tentu saja kaget. Tak bisa ia bayangkan bagaimana perasaan Vhaiza saat ini. Ia berdoa
semoga diberi ketabahan.
*
        Di dalam kamarnya, Agoy mengamati seisi ruangan. Ia menunggu Vhaiza pulang dengan memandang ke luar jendela dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Vhaiza jika sudah kembali. Apa yang harus ia jawab kalau Vhaiza bertanya?
        Saat itu ketika Vhaiza mengajaknya chek up ke dokter, ia berpikir pasti ada yang tidak beres di antara mereka. Untuk itu ia menemui dokter itu terlebih dahulu dan berbicara langsung padanya, agar dokter mengikuti keinginannya. Dan tentu saja dokter itu menolak.
        “Kenapa Anda minta saya melakukan hal itu? Itu melanggar etika profesi, dan saya tidak bisa melakukannya.” Tolak sang dokter dengan sangat keberatan.
        “Saya tahu itu melanggar kode etik kedokteran tapi ini demi kebaikan seorang pasien dan demi selamatnya sebuah rumah tangga. Semua ini demi kebaikan, dok.” Pinta Agoy dengan penuh permohonan.
        “Tapi Anda juga harus tahu ini menyangkut nama baik semua dokter yang ada di dunia ini, jadi…”
        “Dok,…” potong Agoy. “saya hanya meminta seandainya istri saya yang bermasalah tapi kalau saya yang bermasalah tidak apa-apa. Makanya saya mohon… kalau istri saya yang mengalaminya saya tidak ingin dia mengetahuinya. Jika itu terjadi maka jangan katakan apa pun. Dan dokter bisa mengatakan apa saja untuk dia percaya.” Pinta Agoy sekali lagi dengan pasti.
        “Tapi kenapa jika Anda yang mandul, saya harus berterus terang?” dokter itu merasa heran.
        “Karena dia adalah segala-galanya bagi saya. Saya tidak bisa hidup tanpa dia, dan saya tidak ingin dia sedih.” Tutur Agoy serius.
        Dokter itu manggut-manggut. Ia menatap Agoy tak percaya. ’Mana ada orang menikah tidak menginginkan keturunan.’ Pikirnya.
        “Dokter bisa melakukannya?” ia mengulang lagi permohonannya.
        “Terus-terang ini berat sekali.”
        “Tapi saya sangat memohon kepada Dokter.” Pinta Agoy untuk kesekian kalinya.
        “Baiklah, tapi semua ini saya lakukan atas nama kemanusiaan saja dan Anda harus tahu, semua keputusan pasti ada efeknya. Mungkin secara psikis bagi saya dan Anda sendiri.” Ia menekankan kemungkinan itu.
        “Saya sangat mengerti dok.” Agoy merasa lega karena dokter mau bekerja sama dengannya.
        Agoy menghela napas berat. Kini ia tahu apa resiko dan efek itu baginya  dan juga istrinya…! Namun apa pun yang telah ia lakukan semua itu demi kebaikan. Tapi kebaikan untuk siapa? Karena yang namanya berbohong tetap saja salah dan tidak baik, apa pun alasannya.
        “Hai…. Kok ngelamun? Tidak biasanya kamu seperti itu?” Vhaiza sudah muncul dari pintu. Agoy menoleh dan tersenyum menyambutnya meski Mama melarangnya untuk menjemput ke Bandara dengan alasan banyak taksi dan perjalan yang tidak begitu jauh.
        “Gimana belanjanya?”
        “Ya lumayan capek meski perjalanannya tidak terlalu lama. Mama belanja banyak sekali, seolah dia ingin membelikan semua isi toko untuk aku, sepertinya dia ingin sekali membahagiakan aku. Oya, aku gak ngerti kenapa ya… semua orang di dunia ini seakan berlomba-lomba ingin melakukan sesuatu demi orang tercintanya? Tanpa berpikir terlebih dahulu bagaimana perasaan orang yang di cintainya tersebut.” Ia meletakkan kantong belanjaanya di dekat lemari. Agoy mengamati wanita yang sudah dua hari ini jauh darinya meski perginya berdua dengan mamanya sendiri namun tetap saja membuatnya tidak tenang dan kangen.
        “Kalau aku salah, maafkan aku…” kata Agoy lembut. Vhaiza menatap pria berhati mulia itu. Ia duduk di bibir ranjang dan menarik napas berat.
        “Jangan bicara seperti itu, maaf.. aku lelah sekali.” Hela Vhaiza dengan nada datar.
        Agoy mendekatinya. ”Kamu tidak ingin kita membahasnya sekarang?”
        “Membahas apa?” sahut Vhaiza agak dingin.
        “Sayang… tadi Mama telepon aku, kamu sudah mengetahuinya, kan?”
        “Mengetahui apa…?” Vhaiza tampak berpikir sesaat. ”O… itu, itu tidak penting, kan?”
        “Aku tahu kamu marah, maafkan aku ya…”
        “Aku tidak marah, jika kamu tidak membicarakannnya berarti tidak penting. Mana ada sih sesuatu yang penting tidak dibicarakan sama istri?” Vhaiza coba menenangkan gejolak di hatinya. ”Jadi buat apa kamu minta maaf.. dan kita tidak perlu membahasnya.” Vhaiza masih tenang dan Agoy merasa sangat bersalah. Vhaiza merebahkan tubuhnya. Sepertinya ia memang kelelahan.    
        Agoy mencium keningnya sekilas lalu keluar menemui Ayahnya. Pria itu sedang menikmati kopi di teras samping rumah. Agoy ikut duduk dan Ayah melihat perubahan di wajah putranya.
        “Ada apa? Kamu kok kelihatan bingung?” ia mengulurkan gelas kopinya ke Agoy dan pria itu menyunggingkan seulas senyum lalu meraih kopi Ayah dan meneguknya sedikit.
        “Vhaiza Pa… ia mendengar obrolan Arron sama Mama kemarin malam, dia sudah tahu semuanya.” Ujarnya memberitahu.
        Pria itu menatap anaknya dengan serius. ”Bagaimana keadaan Vhaiza sekarang?”
        “Buruk. Dia marah.”
        “Kasian anak itu. Kamu harus membujuknya, apa perlu kita ngomongnya sama-sama? Dan ajak Mama kamu.”
        “Ia bahkan sudah membicarakannya sama Mama, Mama yang memberitahukan sama Arron. Vhaiza mengatakan sama Mama kalau dia mendengarkannya tanpa sengaja.”
        Tuan Nathan menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia jadi ikut bingung dan serba salah. “Saat ini kamu sebaiknya temani Vhaiza, ini pasti berat sekali buat dia.” Ujarnya meski jujur saja sebagai Ayah ia sangat mengharapkan hadirnya seorang cucu dari keturunan Agoy.
        “Tapi dia malah tidak ingin membicarakannya.” Beritahu Agoy.
        “Jangan hiraukan, temani saja dia. Dia butuh dukungan kamu.” Katanya serius. Agoy menatap Papanya dan pria itu mengangguk supaya Agoy kembali ke kamar, menemani Vhaiza.
        Beberapa saat kemudian waktu Agoy kembali Vhaiza baru selesai mandi. Ia bersandar di tepi jendela memandang senja. Agoy ikut bersandar di bahu jendela satunya. Ia menatap Vhaiza dan Vhaiza menoleh lalu menciptakan sebuah senyuman, masih indah senyum itu. Ia melipat kedua tangannya.
        “Kamu tahu bagaimana perasaan aku sekarang?” katanya seperti bertanya pada diri sendiri. Agoy mengangguk. Tapi Vhaiza menggeleng sebelum kembali menoleh ke luar jendela.
        “Sayang… aku tentu saja sangat mengerti.” Ia mendekati wanita itu dan memegang bahunya. ”Aku tahu kamu marah.”
        “Tidak, ini bukan soal marah. Aku tidak mungkin bisa marah sama kamu.” Wajahnya masih menoleh ke luar jendela.
        “Marah saja aku tidak keberatan kamu marah. Aku memang pantas menerimanya kamu tidak perlu menahannya kamu bisa melampiaskan semua kemarahan kamu sama aku.” Agoy mengusap-usap bahu Vhaiza. Vhaiza tetap menatap ke luar.
        “Aku hanya ingin tanya satu hal, kenapa kamu merahasiakannya?”
        “Karena aku tidak ingin kehilangan kamu.” Jawab Agoy sangat cepat.
        “Kau berpikir begitu?”
        “Tentu saja.” suara Agoy sangat yakin. Vhaiza memutar tubuhnya dan menatap Agoy dengan seksama.
        “Kamu mengambil keputusan sepihak dan meng-cut perasaanku.”
        “Maafkan aku.”
        “Tolong jangan bilang maaf lagi.. aku tidak marah, hanya kecewa.. sekarang aku ingin tanya, kenapa kamu mau mempertahankan aku? Apa kamu berpikir kalau aku wanita yang sangat lemah?”
        “Tidak sayang… aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintai kamu.” Ia memegang wajah Vhaiza seakan memohon pengertiannya.
        “Tidak, itu bukan cinta, tapi kasihan.”
        “Itu tidak benar.” Bantah Agoy dengan cepat.
        Vhaiza menoleh ke arah luar lagi. “Oke, kamu bilang akan melakukan apa saja demi kebahagianku. Aku ingin kamu melakukannya..”
        “Jangan meminta aku melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan.” Ia mendengar nada ancaman dari suara Vhaiza.
        “Tidak sulit dan aku kira kamu pasti bisa melakukannya. Menikah lagi.”
        “Aku sudah menduganya.” Ia meraih wajah Vhaiza dengan lembut. ”Lihat mataku… apa kamu pikir ada manusia yang sempurna di dunia ini?”
        “Tapi kamu sempurna, kamu bisa punya anak dengan wanita lain.” Ucapnya dengan nada tekanan. Agoy memeluknya namun Vhaiza menolak halus. Baru kali ini hal itu terjadi. Agoy menatap wajah itu.
        “Kalau aku berada di posisi kamu, apa yang harus kamu lakukan? Menikah lagi hanya demi seorang anak???”
        “Tidak, tentu saja tidak. Karena aku mencintai kamu. Tapi ini masalahnya beda.”
        “Di mana letak bedanya?”
        “Tapi kamu sempur….”
        “Yaaaaa, aku memang sempurna.” Potong Agoy. “Masa kecil yang bahagia, hidup serba berkecukupan, punya orang tua yang hebat, melimpahiku dengan kasih sayang dan memberikan apa pun yang aku butuhkan. Dan menjadi laki-laki mapan, pintar, kaya dan tampan. Lalu menikah dengan seorang wanita yang paling aku cintai lebih dari apapun. Wanita itu juga sangat mencintai aku. Tapi wanita itu tidak bisa memberikan seorang anak pada pria yang sempurna. Itu yang kamu sebut sempurna?”
        “Kamu bisa mendapatkannya dari wanita lain.” Kata Vhaiza seperti mengulangnya lagi.
        “Ya Tuhan… sayang… kenapa kamu belum mengerti juga? Itu bukan cara untuk menutupi satu kekurangan namun menambah kekurangan yang lain. Kalau aku menikah lagi, apa kamu mau melihat aku hidup tanpa cinta? Apa kamu ingin menambah lagi kekurangan satunya? Aku akan sangat menderita bila jauh dari kamu. Dan aku akan lebih menderita lagi kalau melihat kamu sedih. Kalau boleh aku memohon, jangan pernah singgung lagi masalah ini. Kamu lupa ya? Dulu aku pernah mengatakan sama kamu. ’Apalagi yang aku inginkan di dunia ini kalau sudah mendapatkan kamu? Tidak ada sayang… karena kamu adalah surgaku, kehidupanku dan sumber kebahagiaanku.’” Kata Agoy dengan nada masih seperti dulu. Vhaiza menjauhinya, ia duduk di
ranjang dan Agoy mengikutinya.
        “Jangan berpuisi.. aku serius.”
        “Aku juga serius, kenapa kamu menganggap aku berpuisi? Lagian kalau pun juga puisi, itu hal yang serius kok. Seseorang mengatakan isi hatinya yang keluar dari hati yang paling dalam.”
        “Tapi saat ini kata-kata kamu itu tidak keluar dari hati.” Kata Vhaiza masih ngotot. Agoy memeluk pundak Vhaiza. Ia tidak tahu harus ngomong apa lagi selain memeluknya. Diam lama, lalu.
        “Kamu ingat saat aku meminta kamu menjadi kekasihku? Saat itu kamu bilang, jangan meminta sesuatu yang tidak bisa aku berikan. Ingat?”
        Vhaiza menoleh ke wajah Agoy. Itu percakapan sudah tiga tahun lebih. ’Kenapa setiap kata yang pernah keluar dari mulutku setiap detilnya bisa ia ingat dengan baik?’ ”Aku sendiri tidak ingat.” Kata Vhaiza pura-pura lupa.
        “Tidak apa-apa.” Agoy tidak mempermasalahkannnya. ”Sekarang kita turun ya, Papa dan Mama pasti sudah menunggu untuk makan malam.”
        “Aku….” Vhaiza ragu-ragu.
        “Jangan begitu, aku sangat mengenali kamu.”
        “Baiklah, aku akan menyusul.”
        “Aku menunggu.” Ujarnya pasti.
        Vhaiza mengangguk. Ia memandang punggung Agoy yang menjauh dari kamar. Vhaiza menghela napas panjang. Namun di hatinya masih terbesit keinginan untuk menyuruh Agoy menikah lagi. Ia tidak mau memanfaatkan cinta Agoy. Ia tidak boleh egois. Kebahagiaan Agoy adalah kebahagiaanya juga. Ia tidak ingin Agoy dan keluarganya menganggap dia lemah. Ia tidak ingin menghentikan garis keturunan yang ada di rumah itu. Ia merasa memang harus mengalah demi tiga orang dan demi keturunan-keturunan Agoy yang selanjutnya. Ia beranjak dari spring bed, dua hari lagi ia dan Agoy akan kembali ke Jakarta. Ketika ia ingin meninggalkan kamar, terdengar suara deringan telepon. Itu suara ponsel Agoy. Ia mengangkatnya.
        “Hai.. hallo handsome.. gimana kabar kamu? Hampir lima tahun aku tidak mendengar suara
kamu, tapi aku tidak mungkin lupa dengan suara kamu. Bicara dong…” suara itu beraksen Cinta Laura sekali.
        “Iya hallo….” Sahut Vhaiza dengan tenang.
        “Hei, sejak kapan suara kamu berubah menjadi suara perempuan?”
        “Maaf, saya memang perempuan. Saya Vhaiza.”
        “Oh my God, sorry…. Saya Cathy…. Saya kira Anda Arron. Maaf ya saya sepertinya salah sambung.” Katanya sopan. Suara yang penuh semangat itu berubah menjadi rasa tidak enak.
        “Nggak apa-apa number wrong itu biasa.”
        “Oke, sekali lagi sorry…” Cathy mematikan ponselnya ‘Sial’ lalu menepikan mobilnya ‘Vhaiza, siapa wanita itu? Ya Tuhan, apakah itu istrinya Arron? Bodoh, bodoh…!!!’ Chaty menyalakan ponselnya lagi. Dan Vhaiza menatap nomor yang tadi masuk lagi.
        “Anda tidak salah sambung….” Sahutnya kemudian.
        “Ya ya.. saya baru ingat. Vhaiza, kamu istrinya Arron ya? Anda wanita yang beruntung. Bisa ketemu?” katanya dengan nada cepat seolah penasaran dengan sosok Vhaiza.
        “Ketemu? Dengan Arron? Tentu saja, dia banyak cerita tentang kamu.” Otak Vhaiza mulai bekerja dengan cepat. Ia percaya kalau Chaty itu teman lama Agoy. Syukur-syukur ia mantannya Agoy dan belum menikah atau setidaknya masih single. Hatinya tiba-tiba menjadi berbunga-bunga, seakan menemukan pasangan yang pas untuk Agoy. Ia akan mempertemukan mereka lagi. ”Dia sangat kehilangan kamu selama hampir lima tahun ini. Sepertinya dia masih memikirkan kamu…” kata Vhaiza tanpa terkontrol.
        “Benarkah…?” tadinya ia ingin bertemu dengan Vhaiza karena penasaran dia dengan wanita yang berhasil merebut hati Agoy. Tapi mendengar kata-kata Vhaiza membuat Chaty berubah pikiran. ”Tapi saya ingin bertemu dengan kamu.” Suara itu biasa-biasa saja membuat Vhaiza berpikir sejenak. Waktunya tinggal dua hari, apa yang harus ia lakukan. Ia tidak ingin hilang kesempatan untuk mempertemukan Agoy dengan Cathy.
        “Cathy… kamu di mana?”
        “Ya, di Texas.”
        “O ya? Kebetulan sekali.” Vhaiza hampir melonjak kegirangan. ”Kebetulan sekali kami sedang ada di sini. Bagaimana kalau besok aku undang kamu makan malam di rumah Arron?”
        “Mmm… good idea, boleh.”
        “Pukul 19.30. aku tunggu.”
        “Oke, aku pasti datang… da daaa…” suara Cathy terdengar riang dan buru-buru mengakhiri pembicaraan seakan ingin segera bertemu.
        ‘Aku akan berhasil.’ Batin Vhaiza. Ia menatap ponsel itu sejenak lalu menghampus nomor yang masuk lalu meletakan kembali di atas meja.
        Tok tok tok.
        Vhaiza menoleh ke pintu. Mama masuk dan menghampirinya. ”Maaf Ma, aku baru saja mau turun, bagaimana dengan Papa?” Vhaiza merasa tidak sanggup untuk bertemu dengan Ayah mertuanya.
        “Papa kamu tidak seperti yang kamu khawatirkan sayang… ayolah…, kamu sudah terlambat.” ia meraih tangan Vhaiza. Saat mereka menuruni tangga Vhaiza berkata.
        “Ma, barusan teman lamanya Agoy telepon. Dia bertanya tentang Agoy dan aku mengundangnya untuk makan malam di sini besok.” Beritahu Vhaiza seolah minta izin.
        “Siapa?” kata Nyonya Andini.
        “Cathy.” Kata Vhaiza ringan. Langkah Mama terhenti diikuti Vhaiza. Wanita itu menatap
Vhaiza. ”Maaf Ma, aku lancang.” Ia coba membela diri tapi wanita itu tersenyum untuk menyembunyikan kekagetannya.
        “Tidak, bukan itu maksud Mama.” Ia melangkah lagi dan kembali diikuti oleh Vhaiza. ”Apa Arron pernah menceritakan tentang Cathy sebelumnya?” ia menyelidiki.
        “Belum, tapi Agoy pernah cerita banyak tentang teman-teman wanitanya.” Tentang itu ia tidak berbohong. Mama tidak bertanya lagi dan mereka menuju ruang makan.
        Malam itu Vhaiza merasa agak sedikit tegang. Seakan seluruh dunia saat ini sedang menertawakan kekurangannya, mengejeknya dan kasihan padanya. Di meja makan semua berbicara sangat hati-hati seolah takut kalau Vhaiza tersinggung. Itu membuat Vhaiza merasa sedikit tidak nyaman. Itu membuat ia benci dengan kondisinya saat ini. Ia kasihan dengan keadaan yang menimpa dirinya. Ia gelisah namun telepon Cathy tadi sedikit menghiburnya. Ia bisa menarik napas lega sejenak.
        ‘Aku akan melakukan apa yang seharusnya tak peduli itu akan membuat diriku sendiri sakit.’
*
bersambung.......>> htx